Cerita Jumat

Jumat itu, menemukan kita untuk bersama, sesaat. Saling meluap rindu yang mengendap. Aku selalu ingin melambatkan waktu. Seperti kita melambatkan tatapan kita saat bertemu. Mempertegas setiap pijakan yang kita pijak bersama. Mengulurkan kebersamaan yang terasa begitu hangat.

Jumat itu, aku mengantarmu. Menemanimu menyelesaikan semua urusanmu. Lalu kita menjelajah film di bioskop itu. Dua jam kita duduk berdampingan, mengunyah pop corn dan menyeduh cola. Kamu terlihat kelaparan hingga melahap habis satu kantong pop corn. Lucu. Di akhir film, kamu berkata “really inspiring, great movie”. Aku tersenyum, dan kita segera berlalu.

Jumat itu, diatas kendaramu, sesekali kita beradu nafas dalam lantunan-lantunan argumen tentang film yang kita simak. Mencari alur meskipun sesekali menerjang alur itu sendiri. Ringan tidak memberatkan. Sembari diterpa angin, merasakan rimbunnya sore. Matahari sore itu berbeda, tak seperti biasanya. 

Jumat itu, kita habiskan sore diatas keranda, mencari rute terjauh untuk sampai ke rumah tercinta. Seperti ingin membunuh waktu, masih beradu. Tak kusangka aku sebahagia itu. Sesekali beradu mata meskipun itu sesak untuk dilakukan. Hingga bercerita lalumu dan laluku. Seperti itu. Menjadi cerita tersendiri untukmu dan untukku. Hingga rute terjauhpun lenyap dan tersadar sudah tepat berada di halaman depan rumahku.

Jumat itu, kamu berpamitan ragu. Rayumu sedikit membuat binar dalam raut wajahku. Berat meng-iya-kanmu pulang. Namun, kututup dengan senyuman. Kamu berlalu dan aku masih menjaga penglihatanku agar tak terlepas darimu. Sampai akhirnya kamu menghilang dipenghujung jalan itu. 

Jumat itu, bersamamu, setelah menonton film itu, aku merasa setiap terpaan angin terasa berbeda merambati ditubuhku, setiap udara yang kuhirup terasa begitu membahagiakan, sinar mentari sore itu begitu menenangkan. Entah kapan aku akan merasakan denyutan nadiku mendesir kencang. Hingga pada akhirnya senyum ringan bingar dan seketika aku berucap “Thanks God It’s Friday”. 

Karena Jumat selalu memiliki cerita yang berbeda.

Bertemu Pagi Lagi

Bertemu pagi lagi
Dalam dekap langit yang biru
Dalam hangat mentari yang kuning
Selimut syukur tiada akhir

Bertemu pagi lagi
Aku terkapar biru dalam lebam
Merintih pesakitan akan sisa rindu semalam
Rindu yang dipertegas tanpa mengadu

Bertemu pagi lagi
Di kala Senin menyapa lirih
Mengayunkan rohnya untuk lekas beranjak
Yang teringat hanya serbuk letih di perapian

Bertemu pagi lagi
Ketika kopi selalu menjadi pembuka pagi
Dan perangkat menulis yang menemani
Dengan atau tanpa kamu, bahagia sekali

Bertemu pagi lagi
Menatap jauh hingga malam kembali
Semoga berkah dan barokah hari ini
Doanya, begitu saja, sesederhana ini