Sengaja

Sengaja ku sayatkan luka hingga menganga
Agar ada jarak pada ruang gerak kita
Sengaja ku pancing amarahmu memuncak
Agar aku punya alasan untuk berkata tidak

Sengaja ku abaikan apa pun pintamu
Agar kau sadar cinta bukan perkara tuntut melulu
Sengaja tak ku balas suratmu
Agar kau sadar berapa lama waktu yang kau habiskan untuk menunggu

Sengaja ku lakukan semua itu untukmu
Agar kamu tahu rasanya jadi aku
Tapi kiranya terlalu jatuh sudah aku padamu
Hingga akhirnya aku tak mampu

Sengaja lagi padamu

Gelap Hitam Pekatku Lahir dari Keberadaanmu

Engkaulah gelap yang menjelma terang di balik awan malam dan rembulan
Engkaulah hitam yang menjelma putih di atas senyum, tawa dan canda
Engkaulah pekat yang memudar oleh rindu yang menggebu

Lalu, aku hanya
Menghitung jarak darimu
Menghindari poros mata kita bertemu
Melewatkan senyummu berlalu
Membiarkan tak menggenggam tanganmu

Karena dengan itu aku menciptakan gelap hitam dan pekatku

Hingga kenangan bersamamu lenyap oleh mereka

Sedari awal harusnya tak ku lanjutkan sesuatu yang tak kunjung naik ke titik temu

16 Mei 2015

Pada akhirnya …

Pada akhirnya, aku memilih menanggalkan ruang yang entah apa alasanya aku singgah lama disana.
Pada akhirnya, ketidakpastian yang sengaja dibiarkan hanya akan menyisakan tanda tanya dalam banyak rupa.
Pada akhirnya, rasaku akan dirimu yang ber-le-bih semakin membuat hati jatuh hingga terdengar bunyi retaknya.
Pada akhirnya, ku biarkan diriku melangkah tanpa perlu ada dirimu yang selalu hadir sebagai bayangan saja.

Kita adalah kesalahan Tuhan yang dibiarkan bersama.

Originally posted on soloist danseuse:

:Bhagavad

aku tidak pernah menyangka;
Tuhan mengirim kau bersamaan dengan kecemasan dan kepulangan.
Dengan waktu yang dipesan secara tiba-tiba,
dan cinta yang tak kunjung pecah mau pun tumpah.

aku tidak pernah menyangka;
Tuhan mengizinkan aku sepenuh ini mencintaimu,
juga sesering ini memanen rindu.

mengapa Tuhan tak menyiapkan perpisahan saja jauh-jauh hari;
sebelum semua sedalam dan serumit ini,

kita sadar bahwa kita adalah kesalahan yang saling mengikat,
kita adalah kesalahan yang membenarkan diri dalam pagut bibir serta tangis-tangis yang sudah tak asing.

aku kenal rasa air matamu, seakrab aku dengan asin manimu.
kau mengenal gumpal dukaku, semesra kau dengan buah dadaku yang gemar kau panjati selepas pulang.

sementara jarak pernah kelelahan mematahkan kita, semesta merestui segalanya;
maka jadilah,
kita adalah kesalahan Tuhan yang dibiarkan bersama.

Jakarta, 2014.

View original

Cerita Jumat

Jumat itu, menemukan kita untuk bersama, sesaat. Saling meluap rindu yang mengendap. Aku selalu ingin melambatkan waktu. Seperti kita melambatkan tatapan kita saat bertemu. Mempertegas setiap pijakan yang kita pijak bersama. Mengulurkan kebersamaan yang terasa begitu hangat.

Jumat itu, aku mengantarmu. Menemanimu menyelesaikan semua urusanmu. Lalu kita menjelajah film di bioskop itu. Dua jam kita duduk berdampingan, mengunyah pop corn dan menyeduh cola. Kamu terlihat kelaparan hingga melahap habis satu kantong pop corn. Lucu. Di akhir film, kamu berkata “really inspiring, great movie”. Aku tersenyum, dan kita segera berlalu.

Jumat itu, diatas kendaramu, sesekali kita beradu nafas dalam lantunan-lantunan argumen tentang film yang kita simak. Mencari alur meskipun sesekali menerjang alur itu sendiri. Ringan tidak memberatkan. Sembari diterpa angin, merasakan rimbunnya sore. Matahari sore itu berbeda, tak seperti biasanya. 

Jumat itu, kita habiskan sore diatas keranda, mencari rute terjauh untuk sampai ke rumah tercinta. Seperti ingin membunuh waktu, masih beradu. Tak kusangka aku sebahagia itu. Sesekali beradu mata meskipun itu sesak untuk dilakukan. Hingga bercerita lalumu dan laluku. Seperti itu. Menjadi cerita tersendiri untukmu dan untukku. Hingga rute terjauhpun lenyap dan tersadar sudah tepat berada di halaman depan rumahku.

Jumat itu, kamu berpamitan ragu. Rayumu sedikit membuat binar dalam raut wajahku. Berat meng-iya-kanmu pulang. Namun, kututup dengan senyuman. Kamu berlalu dan aku masih menjaga penglihatanku agar tak terlepas darimu. Sampai akhirnya kamu menghilang dipenghujung jalan itu. 

Jumat itu, bersamamu, setelah menonton film itu, aku merasa setiap terpaan angin terasa berbeda merambati ditubuhku, setiap udara yang kuhirup terasa begitu membahagiakan, sinar mentari sore itu begitu menenangkan. Entah kapan aku akan merasakan denyutan nadiku mendesir kencang. Hingga pada akhirnya senyum ringan bingar dan seketika aku berucap “Thanks God It’s Friday”. 

Karena Jumat selalu memiliki cerita yang berbeda.